Selasa, 22 November 2011

Cerita TKI di Jordania
TKI Tak Ubahnya Komoditas
M Fajar Marta | Robert Adhi Kusumaputra | Senin, 25 Juli 2011 | 14:18 WIB

KOMPAS/RIZA FATHONI Unjuk rasa membela TKI.
 oleh M Fajar Marta
Leher dan kaki diikat rantai dan saya dipanggil dog, dog.
-- Nurul
Sangat sedih mendengar cerita Nurul, 20 tahun, tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Cirebon yang telah 1,5 tahun bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jordania. Sepanjang dia bekerja pada majikannya yang seorang Jenderal, sudah tidak terhitung berapa kali ia menerima pukulan, sabetan, dan perlakuan kasar lainnya. Tubuh dan wajahnya penuh luka dan yang paling menyedihkan matanya kini menjadi buta.
Sungguh penderitaan yang amat menghancurkan bagi Nurul yang masih seorang gadis. Tubuhnya yang dulu berisi kini kurus kurang gizi. Penderitaannya makin bertambah karena gajinya selama 1,5 tahun tidak pernah dibayarkan majikan. Ia tidak kuasa berbuat apapun karena ia hanya gadis lugu dari kampung. Puncak siksaan Nurul terjadi tatkala ia diperlakukan, maaf, seperti anjing oleh majikan perempuannya.
"Leher dan kaki diikat rantai dan saya dipanggil dog, dog," kenang Nurul yang akhirnya berhasil lari dan kini berada dalam perlindungan KBRI Amman Jordania. Dia diperlakukan seperti anjing hanya gara-gara memecahkan piring! Peristiwa tersebut betul-betul menjatuhkan harkat martabat Nurul sebagai manusia, menimbulkan rasa trauma dan rendah diri yang mendalam dalam dirinya, yang entah sampai kapan akan hilang.
Kisah pedih Nurul hanyalah salah satu dari banyak cerita derita TKI di Jordania khususnya dan Timur Tengah umumnya. Habis air mata mendengarkan kisah-kisah mereka. Duta Besar Indonesia untuk Jordania dan Palestina Zainulbahar Noor mengatakan, moratorium pengiriman TKI yang berlaku di Jordania sejak tahun lalu sangat tidak efektif karena justru memicu pengiriman TKI secara ilegal dengan kualitas TKI yang rendah.
Memang sungguh ironis nasib para TKI. Para TKI yang berasal dari negeri besar dan kaya seperti Indonesia, yang sebelumnya hidup bersahaja meskipun tak banyak harta, tiba-tiba terlempar ke sebuah negeri yang sebenarnya tidak lebih baik dibandingkan Indonesia dari sisi perekonomian. Di negeri tersebut, para anak gadis tersebut lantas disiksa fisik dan bathin. Kondisi ini terjadi karena pengiriman TKI sudah seperti perdagangan manusia (human trafficking). Para TKI sudah seperti komoditas yang diperdagangkan.
Perdagangan TKI dilakoni oleh oknum tenaga kerja, baik yang ada di Indonesia maupun di Jordania. Berdasarkan penelusuran Kompas, agen di Indonesia biasanya mendapatkan pesanan dari agen di Jordania untuk mengirim sejumlah TKI ke Jordania. Para agen di Indonesia lalu mencari calon TKI, biasanya dengan merayu para orang tua agar mau mengirimkan anak gadis mereka. Orang tua biasanya diiming-imingi sejumlah uang dan janji-janji surga bahwa anak mereka akan mendapat banyak uang dan kebahagiaan.
Celakanya, para calon TKI tidak mendapat pelatihan, baik dari segi bahasa maupun keterampilan mengurus rumah tangga yang kelak berpotensi menimbulkan situasi runyam di rumah majikan. Untuk mendapatkan kepercayaan orang tua, agen biasanya langsung memberikan uang muka sekitar Rp 5 juta kepada orang tua. Terhadap anak yang akan dikirim, dikatakan, jika sudah tidak betah bekerja, silahkan mengadu ke KBRI setempat. Dijanjikan puka, KBRI pasti akan mengurus biaya kepulangan TKI tersebut.
Ketika sampai di Jordania, para TKI lalu dijemput oleh para agen tenaga kerja asal Jordania. Kepada para calon majikan, agen memungut biaya sekitar 2.000 dollar AS, atau setara Rp 17 juta. Uang ini digunakan untuk membayar ongkos perjalanan TKI, orang tua TKI, serta sisanya untuk agen Indonesia dan Jordania. Transaksi ini kadangkala dimengerti para majikan sebagai biaya pembelian, tak ubahnya pembelian budak saat jaman jahiliyah di jazirah Arab. Karena itulah tak jarang, sejumlah majikan memang menganggap TKI sebagai budak yang bebas diperlakukan apa saja.
Situasi menjadi semakin runyam karena banyak majikan bukanlah orang-orang berpenghasilan cukup. Biaya hidup yang tinggi di Jordania memaksa para istri juga harus bekerja untuk menopang keuangan keluarga. Karena itulah mereka membutuhkan pembantu untuk mengurus rumah dan anak-anak mereka. Inilah mengapa, para oknum majikan banyak yang enggan membayar gaji TKI. Selain merasa sudah "membeli", mereka sebenarnya tidak memiliki uang cukup.
Bahkan, tidak jarang, tiga atau empat keluarga berpatungan agar bisa mendapatkan TKI sehingga TKI akhirnya harus bekerja rodi mengurus tiga atau empat keluarga sekaligus. Kalaupun membayar, gaji yang diterima TKI tidak lebih dari 150 dollar AS per bulan. Karena gaji yang rendah inilah, kualitas TKI yang dikirim juga rendah karena agen tidak mau mengeluarkan uang untuk pelatihan. Ketidakmampuan berbahasa Arab membuat TKI tidak bisa merespon perintah majikan dengan benar sehingga memicu kemarahan majikan. Apalagi banyak majikan yang memang menganggap TKI sebagai budak mereka.
Jadi, pengiriman TKI sebenarnya tidak memberi keuntungan finansial sama sekali bagi TKI. Yang untung hanyalah oknum para agen dan para majikan. Jadi betapa tidak adilnya kondisi bagi TKI dan bangsa Indonesia. Para gadis Indonesia dikorbankan bekerja tanpa digaji demi menopang perekonomian warga Jordania. Tidak hanya fisik dan mental para TKI yang rusak, citra bangsa pun menjadi terpuruk. Indonesia yang besar dengan kekayaan berlimpah hanya dikenal sebagai negeri pembantu karena yang orang Jordania tahu hanyalah para TKI.
Citra ini sangatlah menganggu karena sektor perdagangan, investasi, dan pariwisata Indonesia - Jordania menjadi terganggu. Akibat stigma negeri pembantu, sulit bagi orang Jordania memahami Indonesia secara benar dan utuh, kecuali jika ia telah datang sendiri melihat Indonesia. Orang-orang Indonesia di Jordania bercerita, ketika orang Jordania ke Indonesia, mereka kaget betul.
Ketika melintas di Jalan Sudirman Jakarta, mereka menyamakan situasinya dengan Manhattan di New York. Ternyata Indonesia lebih maju daripada Jordania. Pengiriman TKI ke Jordania sesungguhnya lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya. Pengiriman TKI hanya membawa kesengsaraan pada banyak gadis Indonesia. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar